Air adalah urat nadi dalam kehidupan pertanian, dan ketersediaannya yang berkelanjutan menjadi faktor penentu utama keberhasilan panen. Sering kali, masalah irigasi menjadi hambatan terbesar bagi petani, mulai dari rusaknya saluran air akibat sedimentasi hingga distribusi yang tidak merata. Inisiatif “Belajar Kebun” meluncurkan gerakan kampanye “Jaga Air Tani” untuk mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya petani pengguna air, agar terlibat aktif dalam pemeliharaan infrastruktur irigasi pertanian secara rutin dan berkelanjutan.
Kampanye ini berfokus pada pentingnya kolaborasi antarpetani dalam merawat kanal-kanal irigasi yang selama ini sering terabaikan. Belajar Kebun menginisiasi pembentukan komunitas penjaga irigasi di setiap desa, di mana setiap anggota memiliki tanggung jawab untuk memantau kelancaran aliran air di area masing-masing. Kegiatan kerja bakti pembersihan saluran dari sampah dan lumpur dilakukan secara berkala. Hal ini sangat penting untuk memastikan bahwa volume air yang mengalir tetap maksimal, sehingga tanaman padi dan komoditas lainnya tidak mengalami kekeringan meskipun di musim kemarau panjang.
Selain melakukan pemeliharaan fisik, masyarakat juga diedukasi tentang teknik penggunaan air yang efisien. Banyak petani yang masih menggunakan metode banjir (flood irrigation) yang boros air. Melalui program ini, petani diajarkan teknik irigasi tetes atau irigasi selang yang lebih hemat dan tepat sasaran pada akar tanaman. Penggunaan teknologi sensor kelembapan tanah pun mulai diperkenalkan agar petani hanya mengalirkan air saat tanah benar-benar membutuhkannya. Dengan menghemat penggunaan air, mereka berkontribusi langsung dalam menjaga cadangan air tanah untuk pertanian jangka panjang.
Keterlibatan aktif masyarakat dalam menjaga infrastruktur irigasi juga memberikan dampak sosial yang positif. Kerjasama dalam kerja bakti mempererat ikatan persaudaraan antarwarga dan menumbuhkan rasa kepemilikan terhadap fasilitas bersama. Ketika petani merasa memiliki saluran irigasi tersebut, mereka akan lebih rajin merawatnya, sehingga usia pakai infrastruktur pun menjadi lebih panjang. Hal ini mengurangi beban biaya perawatan yang harus ditanggung oleh pihak pemerintah desa maupun daerah, karena sebagian besar pemeliharaan dilakukan secara mandiri oleh warga dengan semangat gotong royong yang tinggi.